Kalau rejeki, tak akan lari kemana….
Sola. Seseorang yang menurutku pribadi sangatlah sensual. EKSOTIS. Tubuh yang kecokelatan dan rambut yang bergelombang, membuatnya semakin menarik. Tapi bukan hanya fisiknya yang mebuatku menoleh berkali-kali padanya. Tetapi apa yang ada dibalik itu, Sifat yang menunjukkan keberaniannya.
Ia adalah seseorang yang konon katanya sudah menjadi bagian dari staff Bosowa Group. Kehadirannya cukup dinantikan. Dengan hanya berbekal gerobak kuning nan mungil, ia berhasil membantu pekerja-pekerja mengisi kampung tengah mereka disiang hari. Namun, kalau hanya sekedar itu, bukan Sola namanya.
Ia adalah pribadi yang unik, saat penjual yang lain rela datang cukup pagi. Ia dengan santainya malah datang disiang hari. Ya, ia adalah seorang penjual bakso Toraja. Dengan gerobaknya ia selalu nangkring di samping pos satpam gedung kokoh depan Universitas Muslim Indonesia.
Setelah mengenalnya beberapa waktu belakangan ini, aku berhasil menyimpulkan beberapa hal yang istimewa darinya. Seperti :
ia adalah penjual pertama yang kurasakan sangat santai untuk meninggalkan gerobak ‘sensual’nya dalam waktu yang lama. Untuk hal yang –menurutku dan kak darma (seorang senior angkatan dikampus)- sedikit konyol. Dalam imaji kami, Sola meninggalkan gerobaknya kepanasan diluar ruang untuk masuk ke dalam gedung dan bercengkrama dengan para staff Bosowa. Atau bahkan kenyataan bahwa ia juga staff Bosowa juga telah kami imajinasikan. Lucu saja, ia seorang karyawan yang menyamar sebagai penjual bakso Toraja.
Saya mempunya sebuah potongan bait tembang lawas yang sepertinya akan menjadi soundtrackku untuknya
“kau datang dan pergi sesuka hatimu…
oh kejamnya dikau..
kejamnya dikau..
padakuuuu….”
Hal ini bukan tanpa alasan. Beberapa kali saya datang ke kantor dengan bermodal lambung yang hanya kuisi seadanya. Berharap diwaktu santap siang, saya bisa menyantap baksonya. Namun, itu hanya mimpi. Kenyataan pahit harus saya terima. Bahwa ia dapat datang sesukanya. Ia bisa dengan santainya melenggang diwaktu lambung ini sudah sangat lelah bernyanyi-nyanyi ‘kroncong pr***l’. Ya, kami sudah sangat kelaparan. Berulang kali menengok dari lantai 4 tempat kami bermukim, selalu berharap gerobak ‘sensual’ itu telah ada. Dan, kami harus bisa menerima kenyataan pahit dengan sangat tabah bahwa ia baru akan muncul pukul 14.00-15.00 waktu Sola. Konyolnya, karena saya dan kakak-kakak canti’ku tetap menunggunya (menunggu baksonya seeh). Parahnya, kemarin aku berhasil tertidur dikantor. Tak sanggup bergerak dan mengerjakan kewajiban kantorku karena diliputi kegundahan yang luar biasa. Jam 13.00 Sola belum juga datang dan diriku sudah sangat sedemikian laparnya.
Saat gerobak itu ada, ia malah entah kemana. Seperti yang kutulis diatas. Ia dengan kebesaran hatinya dan TRUST yang begitu besar, meninggalkan gerobaknya begitu saja. Tak tahan menunggu, kami meraciknya sendiri. Membuat itu seperti ‘property’ pengantinan dimana self servicelah yang berlaku. Bagussss…. Tingkatkanlah Sola!
Akhirnya, pada adegan ini kami menyimpulkan bahwa ia melakukan rutinitas menjualnya hanya pengisi waktu luang. Atau kegiatan menggila di waktu senggang. Sehingga kepuasan batinnyalah yang menjadi prioritas. Rejeki nomor sekian. Kan ada kalimat lawas yang mengatakan “KALAU REJEKI, TAK AKAN LARI KEMANA”.
kakak cantik said,
November 14, 2009 at 3:07 am
hahay..senangnya liat ade’ cantikku kembali menulis lagi…manatap dah…saya tahu saya tidak pernah salah memilih…cayoooo