12 November 2009
Hari ini, aku menjual jualanku. Setelah sekian lama tak bercengkrama dengan mereka, akhirnya aku bertemu mereka melalui forumku sendiri. Di akhir kepengurusanku, aku diminta untuk bertemu adik-adik canti’ 2009. Sedikit gelisah kerena pertama kalinya aku berbicara sebagai pemateri, tahun lalu aku mendaulat kak QQ canti’ angakatan ’03 untuk menjadi pemateri.
Aku bertemu mereka dalam suasana yang ku create sedemikian rupa agar tidak menjadi penjual lapakan yang menjajakan dagangannya. Sore itu, dengan ‘kenikmatan cuaca senja nan cerah’ aku bertemu mereka. Dengan niat bahwa berapapun mereka hari ini, tak jadi soal bagiku. Yang jelas aku kembali pada niatku untuk sharing ilmu yang kuketahui.
Kuawali dengan bertanya ada apa dengan konsep berpakaian mereka hari ini? Salah seorang diantaranya sebut saja –Ida- mengatakan kalau hari ini ia lebih ‘berbunga’. Tampil semenarik mungkin karena akan bertemu dengan orang yang juga telah menarik hatinya.
Hagh, *lebai mode ON.
Lain halnya dengan si Widi, ia mengatakan hari ini dirinya lebih santai karena berpikir hanya akan menghadiri satu perkuliahan saja. Yang lainnya? Mereka seperti bahasa yang sering didengungkan banyak orang. Just ordinary girl, with ordinary style. Tapi buatku mereka adalah orang orang hebat. Mereka rela meluangkan waktunya untuk sedikit mendengarkan ‘omong kosong’ku. Mereka hebat bukan?? Semoga mereka tidak menyesal.
Singkat kata diskusi itu berlangsung, hanya saja buat mereka aku tak hayalnya seperti orang yang dengan santainya menjual jualan orang lain, tetapi menyarankan bahwa jualannya ini tak lebih baik dari yang lainnya. Bahkan membiarkan jualanku membusuk.
Apa yang kukatakan mungkin berbeda dengan ekspektasi mereka. Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa aku akan menguatkan persepsi mereka tentang seorang PR. Ya, PR atau Public Relations atau kalau diIndonesiakan Hubungan Masyarakat. Aku harus menjelaskan apa dan bagaimana tugas seorang PR. Tetapi maaf adik-adik, aku mengecewakan kalian. Tentang seberapa keren dan hebatnya PR itu, aku pikir kalian membayar mahal di kampus merah ini. Jadi, biar itu menjadi tugas para dosen dosen nan hebat. Aku??? Sedikit memberi kalian gambaran bahwa diluar sana, para ‘pesulap’ itu melakukan ini…melakukan itu..menghadapi ini…menghadapi itu… Bahwa terkadang mereka sedikit tidak dimanusiakan oleh banyaknya tanggung jawab untuk menjadi mata,mulut, teliga bahkan menjadi otak sebuah perusahaan. Tapi, seperti yang kukatakan pada kalian, memangnya ada pekerjaan yang memanusiakan manusia???
Setelah mengisahkan kehidupan para pesulap itu, banyak diantara mereka kulihat mulai melakukan gerakan dan pembicaraan tambahan. Mulai dari garuk-garuk kepala yang entahlah memang gatal atau tidak hingga berpikir lagi untuk mencita-citakan dirinya sebagai seorang PR kelak.
Ya, tugas mereka memang sangat banyak dan semuanya sangat abstrak. Bergantung pada kebijakan perusahaannya.
Si putih nan sipit bertanya, apa yang harus mereka miliki sebagai dasar untuk menjadi bagian dari para pesulap itu?? Aku hanya menjawab, cukup banyak dan abstrak. logika berpikir yang bagus, psikologi komunikasi yang menakjubkan dan kemampuan menulis yang juga harus diusahakan sedikit diatas dari basicnya, kemampuan memahami keinginan pasar, Bisa motret, dan bla bla bla…. Semoga ia paham..aaamiin…
Si gingsul nan tomboy bertanya, pesulap-pesulap itu tidak ada tantangannya yaa?? Pertanyaan ini tidak susah kujawab karena teman-temannya sendiri yang menjawabnya dengan bertanya balik ‘apanyaaa yang dak ada tantangannyaaa??banyaknyami itu tantangannya dikasih tauki’ tadi?’ ternyata yang ia maksud adalah kehidupan perkuliahan kami yang timpang dilihatnya. Aku hanya mengatakan beberapa pembuktian dengan banyak gambaran didalamnya. Pada sesi ini, aku berhasil menjadi good seller untuk seseorang yang sangat ku hormati karena ia memang sangat layak dihormati. Semoga ia bisa menjadi bagian dari kita. Aaaaaamin…
Si glasses nan lincah juga bertanya, seorang PR punya salary yang besar yaa?? I have no comment. Aku hanya berharap bahwa itu memang kenyataan yang ada dan aku bisa mengecapnya. Menjadi pesulap dengan salary yang besar. Aaaaamiiin…
Si jilbab bergingsul menanyakan job para pesulap dari perusahaan skala menengah atau kecil? Jawabanku, (silahkan dikoreksi jika ada yang lebih mengetahui) bahwa terkadang mereka lebih memaketkan mereka menjadi marketing communication karena peranan mereka biasanya lebih banyak bergerak dibidang memasarkan perusahaan mereka dan bla bla bla…
karena hari menunjukkan semakin petang dan mereka adalah gadis-gadis. Akhirnya diskusi itu kuselesaikan dengan berharap bahwa mereka tidak berhenti berproses dirumah kami. Kelak, ketika aku masuk kampus mereka akan tetap ada disana dan tetap berproses.
Mereka tidak boleh menjadikan prodi Public Relations sebagai pelarian dari kenyataan bahwa mereka tidak memiliki cukup nyali berada di prodi jurnalistik. Jahat sekaligus sangat dangkal dan picik pemikiran seperti itu. Para pesulap pesulap hebat itu juga mengerjakan tugas para jurnalis. Hanya dalam skala kecil yang lebih cantik yang lebih senang kusebut ‘jurnalisme PR’.
Senang rasanya mengetahui bahwa mereka yang hadir saat itu bukan hanya mereka yang berniat untuk menjadi pesulap saja. Tetapi ada diantara mereka yang datang untuk mengetahui seperti apa kehidupan para pesulap. Atau mereka yang berniat menjadi penonton para pesulap untuk mengetahui ilmu dasar dari apa yang akan mereka tonton. Itu gunanya forum-forum seperti ini bukan?? untuk memberi kalian informasi pengetahuan yang mungkin baru kalian nikmati. Kami akan berusaha memberikan semuanya, silahkan mengikutinya sebagai bekal dan kalian yang akan memutuskan pada forum mana akan kalian letakkan hati kalian. Tetapi, harapanku hati itu tetap berpusat pada rumah kecil tercinta itu dan bukan para biro dan klub pengembangannya saja. Seperti yang sudah-sudah.
Namun ada sedikit rasa kecewa dan bingung melihat persepsi orang-orang yang mengidentikkan pesulap-pesulap itu hanya dari kaum hawa saja. Semoga aku salah menilainya. Kalaupun kalian memang berpikir seperti itu, Kalian salah teman. Justru banyak pesulap hebat yang kutemui adalah orang-orang dari kaum adam yang jauh dari kesan ‘menyimpang’ (kalau ada yang berpikir lain mengenai kaum adam yang menjadi PR). Semoga kita sama-sama tidak memandang para pesulap kaum hawa ini sebagai nilai lebih. Semuanya kembali pada skill masing masing individu. Setidaknya, kalian menjalani proses pembelajaran itu, ketika ternyata pada akhirnya memang tidak cocok, setidaknya kalian sudah mengetahui seperti apa itu dan mendapatkan tambahan ilmu. Iya kan??
Aku juga ingin menghanturkan ribuan maaf,
kalau hanya memberikan sedikit realita bewujud mimpi buruk bagi kalian yang berharap menjadi pesulap yang hebat. Ada sedikit rasa bersalah ketika Si bunga mulai berpikir untuk menjadi pesulap handal. Atau kalian yang sudah mulai membayangkan tugas tugas berat itu dalam bentuk guyonan khas mahasiswa. Mungkin karena yang kukatakan itu hanya yang jelek-jeleknya saja ya?? walaaupun sangat ekstrim, aku berusaha membuat kalian lebih siap dengan keadaan diluar sana. Mungkin akan banyak orang yang berpikir sekian kali untuk melanjutkan mimpinya menjadi salah satu pesulap hebat bahkan pergi menjauh dan melupakan mimpi itu. Namun, mereka yang tinggal dan melanjutkan mimpinya pastilah mempunyai persiapan yang lebih karena sudah mengetahui ‘mimpi buruk’ yang akan ia hadapi kelak. Ia akan menjadi pesulap yang lebih handal dan lebih hebat lagi. Semoga mereka yang hadir bisa menjadi pesulap-pesulap yang lebih hebat dari mereka yang mengecap dunia itu saat ini. Aaaaamiin…