12 November 2009
Hari ini, aku menjual jualanku. Setelah sekian lama tak bercengkrama dengan mereka, akhirnya aku bertemu mereka melalui forumku sendiri. Di akhir kepengurusanku, aku diminta untuk bertemu adik-adik canti’ 2009. Sedikit gelisah kerena pertama kalinya aku berbicara sebagai pemateri, tahun lalu aku mendaulat kak QQ canti’ angakatan ’03 untuk menjadi pemateri.
Aku bertemu mereka dalam suasana yang ku create sedemikian rupa agar tidak menjadi penjual lapakan yang menjajakan dagangannya. Sore itu, dengan ‘kenikmatan cuaca senja nan cerah’ aku bertemu mereka. Dengan niat bahwa berapapun mereka hari ini, tak jadi soal bagiku. Yang jelas aku kembali pada niatku untuk sharing ilmu yang kuketahui.
Kuawali dengan bertanya ada apa dengan konsep berpakaian mereka hari ini? Salah seorang diantaranya sebut saja –Ida- mengatakan kalau hari ini ia lebih ‘berbunga’. Tampil semenarik mungkin karena akan bertemu dengan orang yang juga telah menarik hatinya.
Hagh, *lebai mode ON.
Lain halnya dengan si Widi, ia mengatakan hari ini dirinya lebih santai karena berpikir hanya akan menghadiri satu perkuliahan saja. Yang lainnya? Mereka seperti bahasa yang sering didengungkan banyak orang. Just ordinary girl, with ordinary style. Tapi buatku mereka adalah orang orang hebat. Mereka rela meluangkan waktunya untuk sedikit mendengarkan ‘omong kosong’ku. Mereka hebat bukan?? Semoga mereka tidak menyesal.
Singkat kata diskusi itu berlangsung, hanya saja buat mereka aku tak hayalnya seperti orang yang dengan santainya menjual jualan orang lain, tetapi menyarankan bahwa jualannya ini tak lebih baik dari yang lainnya. Bahkan membiarkan jualanku membusuk.
Apa yang kukatakan mungkin berbeda dengan ekspektasi mereka. Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa aku akan menguatkan persepsi mereka tentang seorang PR. Ya, PR atau Public Relations atau kalau diIndonesiakan Hubungan Masyarakat. Aku harus menjelaskan apa dan bagaimana tugas seorang PR. Tetapi maaf adik-adik, aku mengecewakan kalian. Tentang seberapa keren dan hebatnya PR itu, aku pikir kalian membayar mahal di kampus merah ini. Jadi, biar itu menjadi tugas para dosen dosen nan hebat. Aku??? Sedikit memberi kalian gambaran bahwa diluar sana, para ‘pesulap’ itu melakukan ini…melakukan itu..menghadapi ini…menghadapi itu… Bahwa terkadang mereka sedikit tidak dimanusiakan oleh banyaknya tanggung jawab untuk menjadi mata,mulut, teliga bahkan menjadi otak sebuah perusahaan. Tapi, seperti yang kukatakan pada kalian, memangnya ada pekerjaan yang memanusiakan manusia???
Setelah mengisahkan kehidupan para pesulap itu, banyak diantara mereka kulihat mulai melakukan gerakan dan pembicaraan tambahan. Mulai dari garuk-garuk kepala yang entahlah memang gatal atau tidak hingga berpikir lagi untuk mencita-citakan dirinya sebagai seorang PR kelak.
Ya, tugas mereka memang sangat banyak dan semuanya sangat abstrak. Bergantung pada kebijakan perusahaannya.
Si putih nan sipit bertanya, apa yang harus mereka miliki sebagai dasar untuk menjadi bagian dari para pesulap itu?? Aku hanya menjawab, cukup banyak dan abstrak. logika berpikir yang bagus, psikologi komunikasi yang menakjubkan dan kemampuan menulis yang juga harus diusahakan sedikit diatas dari basicnya, kemampuan memahami keinginan pasar, Bisa motret, dan bla bla bla…. Semoga ia paham..aaamiin…
Si gingsul nan tomboy bertanya, pesulap-pesulap itu tidak ada tantangannya yaa?? Pertanyaan ini tidak susah kujawab karena teman-temannya sendiri yang menjawabnya dengan bertanya balik ‘apanyaaa yang dak ada tantangannyaaa??banyaknyami itu tantangannya dikasih tauki’ tadi?’ ternyata yang ia maksud adalah kehidupan perkuliahan kami yang timpang dilihatnya. Aku hanya mengatakan beberapa pembuktian dengan banyak gambaran didalamnya. Pada sesi ini, aku berhasil menjadi good seller untuk seseorang yang sangat ku hormati karena ia memang sangat layak dihormati. Semoga ia bisa menjadi bagian dari kita. Aaaaaamin…
Si glasses nan lincah juga bertanya, seorang PR punya salary yang besar yaa?? I have no comment. Aku hanya berharap bahwa itu memang kenyataan yang ada dan aku bisa mengecapnya. Menjadi pesulap dengan salary yang besar. Aaaaamiiin…
Si jilbab bergingsul menanyakan job para pesulap dari perusahaan skala menengah atau kecil? Jawabanku, (silahkan dikoreksi jika ada yang lebih mengetahui) bahwa terkadang mereka lebih memaketkan mereka menjadi marketing communication karena peranan mereka biasanya lebih banyak bergerak dibidang memasarkan perusahaan mereka dan bla bla bla…
karena hari menunjukkan semakin petang dan mereka adalah gadis-gadis. Akhirnya diskusi itu kuselesaikan dengan berharap bahwa mereka tidak berhenti berproses dirumah kami. Kelak, ketika aku masuk kampus mereka akan tetap ada disana dan tetap berproses.
Mereka tidak boleh menjadikan prodi Public Relations sebagai pelarian dari kenyataan bahwa mereka tidak memiliki cukup nyali berada di prodi jurnalistik. Jahat sekaligus sangat dangkal dan picik pemikiran seperti itu. Para pesulap pesulap hebat itu juga mengerjakan tugas para jurnalis. Hanya dalam skala kecil yang lebih cantik yang lebih senang kusebut ‘jurnalisme PR’.
Senang rasanya mengetahui bahwa mereka yang hadir saat itu bukan hanya mereka yang berniat untuk menjadi pesulap saja. Tetapi ada diantara mereka yang datang untuk mengetahui seperti apa kehidupan para pesulap. Atau mereka yang berniat menjadi penonton para pesulap untuk mengetahui ilmu dasar dari apa yang akan mereka tonton. Itu gunanya forum-forum seperti ini bukan?? untuk memberi kalian informasi pengetahuan yang mungkin baru kalian nikmati. Kami akan berusaha memberikan semuanya, silahkan mengikutinya sebagai bekal dan kalian yang akan memutuskan pada forum mana akan kalian letakkan hati kalian. Tetapi, harapanku hati itu tetap berpusat pada rumah kecil tercinta itu dan bukan para biro dan klub pengembangannya saja. Seperti yang sudah-sudah.
Namun ada sedikit rasa kecewa dan bingung melihat persepsi orang-orang yang mengidentikkan pesulap-pesulap itu hanya dari kaum hawa saja. Semoga aku salah menilainya. Kalaupun kalian memang berpikir seperti itu, Kalian salah teman. Justru banyak pesulap hebat yang kutemui adalah orang-orang dari kaum adam yang jauh dari kesan ‘menyimpang’ (kalau ada yang berpikir lain mengenai kaum adam yang menjadi PR). Semoga kita sama-sama tidak memandang para pesulap kaum hawa ini sebagai nilai lebih. Semuanya kembali pada skill masing masing individu. Setidaknya, kalian menjalani proses pembelajaran itu, ketika ternyata pada akhirnya memang tidak cocok, setidaknya kalian sudah mengetahui seperti apa itu dan mendapatkan tambahan ilmu. Iya kan??
Aku juga ingin menghanturkan ribuan maaf,
kalau hanya memberikan sedikit realita bewujud mimpi buruk bagi kalian yang berharap menjadi pesulap yang hebat. Ada sedikit rasa bersalah ketika Si bunga mulai berpikir untuk menjadi pesulap handal. Atau kalian yang sudah mulai membayangkan tugas tugas berat itu dalam bentuk guyonan khas mahasiswa. Mungkin karena yang kukatakan itu hanya yang jelek-jeleknya saja ya?? walaaupun sangat ekstrim, aku berusaha membuat kalian lebih siap dengan keadaan diluar sana. Mungkin akan banyak orang yang berpikir sekian kali untuk melanjutkan mimpinya menjadi salah satu pesulap hebat bahkan pergi menjauh dan melupakan mimpi itu. Namun, mereka yang tinggal dan melanjutkan mimpinya pastilah mempunyai persiapan yang lebih karena sudah mengetahui ‘mimpi buruk’ yang akan ia hadapi kelak. Ia akan menjadi pesulap yang lebih handal dan lebih hebat lagi. Semoga mereka yang hadir bisa menjadi pesulap-pesulap yang lebih hebat dari mereka yang mengecap dunia itu saat ini. Aaaaamiin…
Kalau rejeki, tak akan lari kemana….
Sola. Seseorang yang menurutku pribadi sangatlah sensual. EKSOTIS. Tubuh yang kecokelatan dan rambut yang bergelombang, membuatnya semakin menarik. Tapi bukan hanya fisiknya yang mebuatku menoleh berkali-kali padanya. Tetapi apa yang ada dibalik itu, Sifat yang menunjukkan keberaniannya.
Ia adalah seseorang yang konon katanya sudah menjadi bagian dari staff Bosowa Group. Kehadirannya cukup dinantikan. Dengan hanya berbekal gerobak kuning nan mungil, ia berhasil membantu pekerja-pekerja mengisi kampung tengah mereka disiang hari. Namun, kalau hanya sekedar itu, bukan Sola namanya.
Ia adalah pribadi yang unik, saat penjual yang lain rela datang cukup pagi. Ia dengan santainya malah datang disiang hari. Ya, ia adalah seorang penjual bakso Toraja. Dengan gerobaknya ia selalu nangkring di samping pos satpam gedung kokoh depan Universitas Muslim Indonesia.
Setelah mengenalnya beberapa waktu belakangan ini, aku berhasil menyimpulkan beberapa hal yang istimewa darinya. Seperti :
ia adalah penjual pertama yang kurasakan sangat santai untuk meninggalkan gerobak ‘sensual’nya dalam waktu yang lama. Untuk hal yang –menurutku dan kak darma (seorang senior angkatan dikampus)- sedikit konyol. Dalam imaji kami, Sola meninggalkan gerobaknya kepanasan diluar ruang untuk masuk ke dalam gedung dan bercengkrama dengan para staff Bosowa. Atau bahkan kenyataan bahwa ia juga staff Bosowa juga telah kami imajinasikan. Lucu saja, ia seorang karyawan yang menyamar sebagai penjual bakso Toraja.
Saya mempunya sebuah potongan bait tembang lawas yang sepertinya akan menjadi soundtrackku untuknya
“kau datang dan pergi sesuka hatimu…
oh kejamnya dikau..
kejamnya dikau..
padakuuuu….”
Hal ini bukan tanpa alasan. Beberapa kali saya datang ke kantor dengan bermodal lambung yang hanya kuisi seadanya. Berharap diwaktu santap siang, saya bisa menyantap baksonya. Namun, itu hanya mimpi. Kenyataan pahit harus saya terima. Bahwa ia dapat datang sesukanya. Ia bisa dengan santainya melenggang diwaktu lambung ini sudah sangat lelah bernyanyi-nyanyi ‘kroncong pr***l’. Ya, kami sudah sangat kelaparan. Berulang kali menengok dari lantai 4 tempat kami bermukim, selalu berharap gerobak ‘sensual’ itu telah ada. Dan, kami harus bisa menerima kenyataan pahit dengan sangat tabah bahwa ia baru akan muncul pukul 14.00-15.00 waktu Sola. Konyolnya, karena saya dan kakak-kakak canti’ku tetap menunggunya (menunggu baksonya seeh). Parahnya, kemarin aku berhasil tertidur dikantor. Tak sanggup bergerak dan mengerjakan kewajiban kantorku karena diliputi kegundahan yang luar biasa. Jam 13.00 Sola belum juga datang dan diriku sudah sangat sedemikian laparnya.
Saat gerobak itu ada, ia malah entah kemana. Seperti yang kutulis diatas. Ia dengan kebesaran hatinya dan TRUST yang begitu besar, meninggalkan gerobaknya begitu saja. Tak tahan menunggu, kami meraciknya sendiri. Membuat itu seperti ‘property’ pengantinan dimana self servicelah yang berlaku. Bagussss…. Tingkatkanlah Sola!
Akhirnya, pada adegan ini kami menyimpulkan bahwa ia melakukan rutinitas menjualnya hanya pengisi waktu luang. Atau kegiatan menggila di waktu senggang. Sehingga kepuasan batinnyalah yang menjadi prioritas. Rejeki nomor sekian. Kan ada kalimat lawas yang mengatakan “KALAU REJEKI, TAK AKAN LARI KEMANA”.
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”
“Saya liat blogmu kemarin, itu bisa jeko menulis” ujar kakak cantik saat bertemu di pasar-tempat tongkrongan manusiamanusia aneh- kemarin.
Perkataannya kemudian mengingatkanku pada media yang selama ini cukup lama kutinggalkan. Merasa tidak berbakat dibidang itu, akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkannya.
Hari ini (6/11) aku menjenguknya lagi. Hahahaha, sedikit tidak menyangka bahwa aku bisa menulis hal seperti itu. Mengingat sugestiku bahwa aku tidak berbakat dibidang itu.
Yang paling aku sadari bahwa banyaknya bahasa yang kadang hanya aku dan beberapa orang saja mengerti. Seperti, aku mempunyai bahasa sendiri. Bagus? Tergantung dari mana melihatnya. Bagus ketika itu dilihat sebagai sebuah karakteristik yang dimiliki oleh seseorang. Namun jadi sangat tidak bagus jika berkelanjutan pada pekerjaan yang menuntut pemahaman orang banyak pada pesan yang ingin kita sampaikan.
Hmmm, saat semua orang telah mennentukan gaya menulisnya, atau saat puluhan tulisan telah mereka hasilkan dengan media-media pribadi mereka, aku masih saja duduk merenung dan mencari jati diri.
Jangan dicontoh! Walaupun tetap ada apology “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”
DIA
Malam ini, kerinduan akan dirinya kembali hadir. Kerinduan untuk menikmati bulan nan suci ini berdua. Kerinduan untuk sekedar merasakan buka bersama atau ngabuburit menunggu buka puasa. Namun, lagi-lagi kerinduan itu hanya bisa menguap tanpa penyelesaian yang sesuai dengan keinginanku. Aku harus menunggu 2 minggu lagi untuk merasakannya. Tuntutan kerjaan yang mengikat mengharuskan kami harus merasakan ini selalu.
Entah sampai kapan hal ini akan kami jalani. Merasakan penatnya hari yang hanya dapat kami bagi lewat sms atau telepon. Sementara diri ini membutuhkan lebih dari sekedar kata dan suara. Mungkin diri ini, butuh DIRINYA disini, disisiku.
pasukan Garuda
!7 Agustus kali ini, adalah moment yang tidak akan kulupakan. Kali ini, untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri untuk bertanggung jawab memegang slaah satu pasukan untuk penugasan tanggal 17 Agustus 2008. Walaupun mungkin mereka tidak dipersiapkan untuk menjadi ‘morning show’saat itu, paling tidak saat gladi bersih, mereka pernah membuat banyak mata terpaku oleh langkah kaki mereka.
Pasukan itu diberi nama pasukan Bendera. Dengan jumlah 31 orang. Mereka berhasil memukau banyak pasang mata saat disandingkan dengan pasukan Garuda. Ya, walaupun mereka pasti merasa sedikit kecewa, aku yakin melihat perform pasukan mereka saat penurunan tadi, jika aku menjadi mereka aku akan sangat bangga dengan pasukanku. Sangat bangga pada diriku sendiri.
Latihan di Smada dalam latihan intensif persiapan 17 Agustus adalah awal pertemuanku dengan mereka. Aku melihat mereka sedikit terabaikan oleh segelintir orang yang mungkin memiliki ketertarikan dengan hal lainnya. Awalnya, aku hanya akan menemani salah satu kakak dari KPP untuk mengambil alih mereka. Tetapi karena salah ucap, akhirnya secara tidak langsung aku mengikrarkan diriku menjadi penanggung jawab atas kelangsungan pasukan tersebut.
Ketika dikritik oleh salahsatu senior karena pengaturanku, sangat banyak hal yang kupikirkan. Merasa pesimis akan kemampuanku hingga rasa marah dengan diri sendiri mulai merasukiku. Tetapi melihat mereka terlunta-lunta, itu jauh lebih menghantamku.
Kumulai lagi dari awal. Kadang, ada perasaan ingin meninggalkan mereka. Atau mulai merasa bingung dengan metode apa aku harus melatih mereka. Keras atau toleransikah? Aku mengingat perkataan seorang senior saat aku ikut ia melati. ‘Setiap orang memiliki gaya melatih tersendiri.’ Maka dengan gayaku, aku mencoba membuat mereka paham dengan apa yang kuinginkan. Hasilnya, mereka adalah pasukan yang cerdas. Kelemahan fisik pun jarang kudapatkan pada mereka. Ku benar-benar bersyukur atas itu.
Melihat perkembangan pasukan lainnya, aku terhenyak banhwa aku terlalu terlena akan satu hal. Masih banyak hal yang patut mereka ketahui. Tetapi, keterbatasan fisik dan waktuku akhirnya membuatku kadang harus meninggalkan mereka untuk dilatih dengan orang lain.
Seusai istirahat, pukul 14.30 WITA bertempat di Pusdiklat, mereka kembali berlatih untuk penugasan penurunan bendera di sekolah. Saat itu, dengan segala keterbatasan latihan, mas abang dan dindanya kulatih prosesi penurunan bendera. Karena selama ini, mereka belum pernah berlatih penurunan di tiang bendera Smada. Aku hanya bisa memberikan teori untuk beberapa hal yang memang tidak mungkin mereka simulasikan saat itu.
Hari ini, banyak hal yang patut kusyukuri. Selain karena pengibaran yang berlangsung dengan baik, aku cukup terkagum dengan kemajuan pasukanku. Dengan bantuan KPP lainnya, akhirnya mereka, pasuka Bendera dapat melaksanakan penugasan mereka dengan sangat baik. Ada rasa haru yang amat sangat melihat mereka. MErasa berdosa karena saat mereka gladi, aku sempat meragukan kemampuan mereka dalam melaksanakan tugasnya.
Namun, bukan hanya syukur yang kurasakan hari ini, ada perasaan menyesal dengan pihak skolah yang sampai sekarang tetap tidak bisa ikut berpartisipasi dalam melaksanakan upaca penurunan bendera. Smada kosong oleh siswa dan para guru. Entahlah, mungkin sinetron lebih menarik buat mereka. Aneh.!
Saat itu juga, aku langsung menyesali bahwa kenapa tak pernah terpikir olehku mengusulkan kedatangan orang tua mereka mengikuti upacara penurunan. Mereka pasti akan sangat bangga melihat anak mereka melaksakan tugasnya dengan sangat baik.
Cuma rasa hormat dan terimakasih yang dapat kuberikan untuk mereka. terima kasih telah mengajarkanku arti tanggung jawab&focus pada satu hal. Berharap bahwa mereka adalah orang-orang yang akan kutemui sebagai panitia&tetap ada di PasQ Smada tahun-tahun berikutnya. Yakinlah, kalian tidak akan menyesal mengalaminya.
Akhirnya, aku hanya bisa mengucapkan selamat atas penugasan yang snagat mengesankan, & selamat datang di keluarga besar Paskibra SMAN 2 Makassar.
Merdeka!
170808
Hari ini, negaraku merayakan ulang tahunnya ke 63 tahun. Berbagai acara pun diselenggarakan merayakannya. Mulai dari perlombaan antar RT RW hingga pengibaran di berbagai sekolah, instansi dan, tentu saja Istana Negara.
Banyak yang berbeda di perayaan 17an kali ini. Salah satu penyebabnya karena hari 17 Agustus jatuh pada hari Minggu. Untuk acara perlombaan antar warga, mungkin hal ini justru menyenangkan tetapi, buat para pegawai negeri mungkin lain ceritanya. Tak terkecuali para siswa sekolah.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap 17an aku selalu merayakannya dengan mengikuti upacara di SMA Neg 2 Makassar. KArena mengikuti ekskul Paskibra sewaktu SMA, aku tak pernah menyangka bahwa akan tetap bertahan disana. Semoga selalu (amin)
Semuanya bermula di awal Agustus saat para siswa baru mulai menduduki bangku SMAnya, tradisi MOS dan pengenalan ekskul di Smada menjadi ajang para Taruna-Taruni (kami menyebutnya seperti ini) untuk unjuk gigi memperlihatkan seolah-olah bahwa kami adalah orang-orang yang dilatih tegas. Latihan rutin setiap Minggu pagi di Matto serta hari Kamis di Smada, mulai menjadi rutinitas mingguan para Capas (Calon Paskibra) yang berjumlah sekita 90 orang. Berbalut pakaian kaos putih, celana training seta topi mereka menjalani semua prosesi dengan ketertarikan masing-masing. Latihan mereka, sekalian menjadi ajang kumpul para senior dan alumni (KPP) yang lama tak bersua karena kesibukan masing-masing.
Hari berganti, tak terasa kulit mereka yang dulunya putih kini sudah mulai kecokelatan. Topi yang mereka gunakan sepertinya tidak terlalu banyak membantu. Matahari sepertinya berusaha menjadikan mereka sahabatnya. Tetapi bukankah matahari memang sahabat anak PasQ, bukan????
Bukan hanya kulit mereka saja yang berubah. Pengetahuan&kecakapan mereka akan baris berbaris kian mantap. Sayang, perubahan ini harus diikuti dengan perubahan jumlah anggota yang semakin menciut jumlahanya. Apalagi kebanyakan yang ‘menghilang’ tersebut adalah kaum adam. Namun, disinilah hokum alam berlaku. Kita dapat melihat siapa yang akhirnya dapat bertahan menjalani segala prosesi penerimaan tersebut.
Bukan hanya para Capas yang sibuk berlatih, para senior yang melatihnya justru lebih bekerja ekstra keras selain melatih calon adik-adik mereka. DIKSAR. Inilah sumber kesibukan mereka, mulai dari dana sampai kesulitan mendapatkan izin kegiatan dari sekolah harus mereka lalui.
Alumni????
Mengontrol dan melatih para pasukan untuk persiapan 17 Agustus. Pembagian Capas menjadi 2 pasukan besar yang akan dibagi tugas menjadi pasukan pengibar dan penurunan pun telah dilakukan.
Saatnya diksar. Setelah melalui proses lobi yang sangat panjang dari pihak sekolah, akhirnya pengkaderan inipun dapat terlaksana. Para Capas yang bagaikan para Akademia dengan kopor besar yang entah apa isinya, memenuhi kamar-kamar Pusdiklat PU yang terletak dijalan Nuri sejak tanggal 14, 15-17 Agustus 2008.
Latihan penugasan, materi kepemimpinan, serta prosesi diksar harus mereka lakukan demi hasil yang maksimal. Sakit karena kelelahan merupakan hal yang biasa seharusnya, hanya saja kondisi jauh dari orang tua selama 3 hari 3 malam kadang membuat para peserta menjadi lebih lemah karena belum terbiasa.
Apa yang terjadi bila mereka dikarantina sebagai paskibraka ya???
Entahlah, aku tak dapat membayangkan. BEgini saja, mereka sudah sangat lemah.
Menjelang 17 Agustus, persiapan pun semakin dipermantap. Apalagi, masing-masing pasukan masih bersaing untuk menjadi pasukan pengibar. Melalui seleksi ketat, pada tanggal 16 Agustus ditetapkan pasukan Garuda sebagai pasukan pengibar esok hari dan pasukan Bendera sebagai pasukan penurunan.
Jam 18.30 WITA
Pusdiklat PU mulai ramai oleh kedatangan para orang tua capas yang diundang menghadiri pelantikan anak-anak mereka sebagai Taruna-Taruni Paskibra SMan 2 Makassar. Sedangkan anak-anak mereka masih berada di SMADa untuk gladi bersih. Akhirnya Pelantikan mereka menjadi Taruna-Taruni pun berlangsung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, orang tua mereka dengan senang hati menunggui anak mereka samil mendokumentasikan moment berharga itu. Kerinduan karena lama tak bersua pun terobati saat para orang tua diminta untuk memasangkan vale pada jas PDu anak mereka. Namun ada juga yang datang pada seniornya karena orang tuanya tidak dapat hadir.
Hari kemerdekaan pun tiba, segala kelelahan mereka terbayar dengan baik saat peugasan mereka berjalan dengan baik. Pengibaran dan Penurunan memperlihatkan hasil yang sangat membanggakan.
Berharap bahwa pada prosesi pengkaderan berikutnya, mereka masih ada dengan memperlihatkan perkembangan yang membanggakana. Amin…
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!